Aliran-Aliran dalam Pendidikan

 


Aliran-Aliran dalam Pendidikan

Pendidikan merupakan proses yang melibatkan akuisisi pengetahuan, keterampilan, nilai, dan pengalaman yang berfungsi untuk mengembangkan potensi individu dan mempersiapkannya untuk berperan dalam masyarakat. Pendidikan dapat terjadi di berbagai tingkat, mulai dari pendidikan formal di sekolah hingga pembelajaran informal di lingkungan sehari-hari. Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Munib, 2011). Menurut Undang-Undang No 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar serta proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam pendidikan terdapat beberapa aliran. Aliran-aliran ini muncul dari pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan dalam dunia pendidikan. Pemikiran tersebut berlangsung seperti suatu diskusi berkepanjangan maksudnya yaitu pemikiran-pemikiran terdahulu ditanggapi dengan pro dan kontra oleh pemikir yang muncul setelahnya, sehingga timbul pemikiran yang baru dan demikian seterusnya. Dalam tulisan ini akan membahas tiga aliran pendidikan yaitu aliran empirisme, aliran nativisme, dan aliran konvergensi.

Pertama, Aliran Empirisme. Aliran ini dipelopori oleh filsuf berkebangsaan Inggris yang rasional bernama John Locke (1632-1704). Menurut Umar Tirtarahardja (Munib, 2008) aliran ini bertolak dari lockean tradition yaitu lebih mengutamakan perkembangan manusia dari segi empirik yang secara eksternal dapat diamati dan mengabaikan aspek pembawaan sebagai sisi internal manusia. pokok pikiran yag dikemukakan oleh kelompok aliran ini yaitu beranggapan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan, sedangkan pembawaan berupa bakat tidak diakui. Menurut aliran empirisme manusia lahir digambarkan sebagai "tabula rasa" yakni sebuah meja berlapis lilin yang tidak terdapat tulisan apapun di atasnya. Istilah lain yang digambarkan oleh aliran empirisme yaitu manusia seperti kertas puth bersih yang masih kosong, sehingga aliran ini beranggapan pendidikan memiliki peran yang sangat penting bahkan dapat menentukan keberadaan anak (Munib, 2008). Berdasarkan penjelasan di atas pendidikan dikatakan "Maha Kuasa", artinya pendidikan seolah-oleh memiliki kekuasaan dalam menentukan nasib anak.

Pelopor aliran pendidikan ini John Locke menganjurkan pendidikan di sekolah seharusnya dilakukan atas kemampuan rasio anak dan bukan atas perasaannya. Mendidik menurutnya membentuk pribbadi anak sesuai dengan yang dikehendakinya. Aliran pendidikan empirisme ini dipandang berat sebelah sebab hanya mementingkan peranan pengamalan yang diperoleh anak dari lingkungannya. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa sejak lahir berupa bakat dianggap tidak menentukan dan tidak berpengaruh sama sekali. Pada kenyataan sehari-hari terdapat anak - anak yang berhasil karena bakat, meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung sama sekali(Suardi, Tri dan Syofrianisda, 2016). Menurut (Sumitro, 2005) kelemahan aliran empirisme yaitu hanya mementingkan peranan pengalaman. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dikesampingkan. Padahal pada kenyataanya banyak anak yang berbakat dan berhasil dalam lapangan tertentu walaupun lingkungan tidak mendukung. Walaupun demikian para penganut aliran ini masih berkeyakinan bahwa manusia dipandang sebagai makhluk yang dapat dimanipulasi karena keberadaannya yang pasif (Munib, 2008).

Kedua, Aliran Nativisme. Tokoh utama aliran ini adalah Arthur Schopenhauer(1788-1869), Seorang pemikir dari Jerman. Istilah Nativisme berasal dari kata "Natives" yang artinya lahir. Inti ajaran aliran pendidikan ini adalah perkembangan seseorang merupakan produk dari faktor pembawaan yang berupa bakat. Aliran ini identik dengan pesimistis yaitu memandang segala sesuatu dengan kaca mata hitam. Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Pembawaan yang ada sejak lahir itulah yang dianggap menentukan hasil perkembangannya. Selain itu, aliran pendidikan ini berpandangan bahwa pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan.

Dalam ilmu pendidikan pandangan pendidikan menurut aliran ini disebut dengan pesimistis pedagogis. Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat pembawaan anak dipandang tidak akan berguna untuk perkembangan anak itu sendiri. Bagi Alira Nativisme lingkungan sekitar tidak memengaruhi perkembangan anak, penganut aliran ini menyatakan kalau anak mempunyai pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya jika anak memiliki pembawaan baik maka anak tersebut akan menjadi baik.

Aliran ini juga mempunyai ajaran bahwa bakat yang merupakan pembawaan seseorang akan mentukan nasibnya. Walau dalam kenyataannya sering dijumpai adanya kemiripan antara orang tua dan anak baik secara fisik maupun bakat-bakatnya, tapi pembawaan bukan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangannya.

Aliran nativisme berpendapat bahwa perkembangan indovidu itu semata-mata ditentukan oleh faktor bawaan semenjak lahir(Sumitro, 2005). Aliran nativisme bertolak dari Libmitzian Tradicion yang menenkan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan juga termasuk dalam kategori pendidikan, kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak (Suardi, Tri dan Syofrianisda, 2016).

Namun demikian menurut aliran ini tetap saja berpendapat bahwa pendidikan sama sekali tidak berpengaruh terhadap perkembangan seseorang, sehingga bila pendidikan yang diberikan tidak sesuai dengan pembawaan seseorang maka tidak akan ada gunanya. Dengan demikian mendidik adalah membiarkan seseorang tumbuh berdasarkan pembawaannya.

Ketiga, Aliran Konvergensi. Aliran konvergensi dipelopori oleh seorang ahli pendidikan berkebangsaan Jerman yaitu Wiliam Stern(1871-1938). Aliran ini merupakan gabungan dari aliran-lairan yang telah disebutkan. aliran ini menggabungkan pentingnya hereditas dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. oleh karena itu, aliran ini tidak hanya berpegang pada pembawaan saja tetapi juga kepada faktor yang mempunyai andil lebih besar dalam menentukan masa depan seseorang. Aliran konvergensi berpendapat bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia ditentukan oleh dua faktor, yaitu: faktor bakat/pembawaan dan faktor lingkungan, pengalaman/pendidikan.

Pelopor aliran pendidikan ini Wiliam Stren mengatakan "kemungkinan-kemungkinan yang dibawa lahir itu adalah petunjuk-petunjuk nasib depan dengan ruangan permainan. Dalam ruangan permainan itulah letaknya pendidikan dalam arti seluas-luasnya. Tenaga-tenaga dari luar dapat menolong, tetapi bukanlah ia yang menyebabkan pertumbuhan itu, karena ini datangnya dari dalam yang mengandung dasar keaktifan dan tenaga pendorong”Jadi menurut Williem seorang anak di lahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun buruk.

Setiap pribadi merupakan hasil konvergensi dari faktor-faktor internal dan eksternal. Perpaduan antara pembawaan dan ingkungan keduanya menuju pada satu titik pertemuan yang terwujud sebagai hasil pendidikan. William berpendapat bahwa:

1.    Pendidikan memiliki kemungkinan untuk dapat dilaksanakan, dalam arti dapat dijadikansebagai penolong kepada anak untuk mengembangkan potensinya.

2.    Yang membatasi hasil pendidikan anak adalah pembawaan dan lingkungannya.

Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan ilmu pengetahuan modern, aliran konvergensi dipandang lebih realistis, sehingga banyak diikuti oleh para pakar pendidikan. Aliran ini semakin berkembang pada abad XX. Sebagai kelanjutan dari perkembangan aliran ini tumbuh “gerakan baru” dalam dunia pendidikan. Pemikiran bahwa keadaan di luar diri anak dapat meningkatkan kepribadiannya terwujud dalam pengajaran alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja dan pengajaran proyek.

Sedangkan menurut Sumitro (2005) Aliran konvergensi atau interaksionisme ini berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia telah membawa pembawaan baik dan buruk. Selanjuntnya dalam perkembangannya anak akan dipengaruhi pula oleh lingkungannya, baik itu faktor pembawaan maupun lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Anak yang mempunyai pembawaan baik dan didukung oleh lingkungan pendidikan yang baik akan membawa anak menjadi semakin baik dan semakin cerdas. Bakat yang dibawa sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat pembawaan yang baik. Berdasarkan pandangan konvergensi itu William Stern membuat suatu kesimpulan bahwa hasil pendidikan itu bergantung dan pembawaan dan lingkungan. Dari berbagai aliran tersebut tentunya yang paling cocok dengan keadaan masyarakat di sekitar kita adalah aliran konvergensi walaupun tidak sepenuhnya aliran ini benar.

Next Post
No Comment
Add Comment
comment url